Showing posts with label arkeologi. Show all posts
Showing posts with label arkeologi. Show all posts

Sunday, July 14, 2013

Benarkah Candi di Lembah Bujang mengadap Kiblat? Bahagian 2



Photo benua Sundaland; Malaysia, Indonesia dan  Borneo pernah bersatu dengan Tanah besar Asia Rujukan Sundaland

Dari teori geologi plat tektonik bumi ini sentiasa berubah berubah sesesuai dengan Firman Allah dalam ayat Al Quran
 
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)"
 
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (Al Qur'an, 78:6-7)

Dengan perpanjangannya yang menghujam jauh ke dalam maupun ke atas permukaan bumi, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi yang berbeda, layaknya pasak. Kerak bumi terdiri atas lempengan-lempengan yang senantiasa dalam keadaan bergerak. Fungsi pasak dari gunung ini mencegah guncangan dengan cara memancangkan kerak bumi yang memiliki struktur sangat mudah bergerak.

Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi
.

Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:

Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305). Baca Selengkapnya Di:
SINI
 
 
Kita kembali ke kedudukan Candi di Lembah Bujang -apakah ia benar sebuah Candi Buddha /Hindu  atau sebuah Mihrab seorang Islam atau ugama Hanif ? (bahagian depan tempat solat seorang Imam). Berdasarkan teori pergerakan benua Sundaland, Malaysia dan Sumatera pernah bersatu. Maka  Radzi Sapiee telah membuat satu photoshop bagi melihat Candi asal di Lembah Bujang pada sudut yang lain;
 
 


Dengan menggunakan Photoshop saya mencabut dan menyengetkan Semenanjung pada 32.09 darjah kemudian merapatkannya dengan Pulau Sumatera.
 
Pada kedudukan ini candi di Lembah Bujang akan menghadap Kaabah. !
 
Jika begitu benarlah ruang di hadapan "candi" itu adalah sebuah MIHRAB.
 
Sebenarnya banyak prasasti dan warisan arkeologi di nusantara yang telah diselewengkan faktanya. Islam  dan ugama Hanif  telah bertapak lama di Nusantara!
 
Jika begitu kitab sejarah Bangsa Bani Jawi  seperti Babad Tanah Jawi , Sulatus Salikin , Merong Mahawangsa, Hikayat Amir Hamzah, Sejarah Melayu  wajar dikaji balik dan di cross check dengan Al Quran dan Hadis, catatan Ptolemy dan sejarawan Arab, Cina, India  serta Yunani kerana ia memberi gambaran geografi, geology, sejarah serta  rahsia besar  di Nusantara. Berdasarkan kitab kitab dan cerita orang lama tentang pergerakan benua dan lain lain kita dapat dapatan  ini;

1. Fasa satu : Separuh tanah Asia Tenggara pernah bersambung dan terletak di hujung Tanah Arab. Kemungkinan begitulah keadaannya semasa zaman Nabi Sulaiman sehingga Yaman dan Asia Tenggara termasuk di dalam jajahan kerajaan Saba' yang diperintah Ratu Balqis. Petunjuknya ada pada cerita kanak-kanak Sang Kanchil yang asyik menyebut tentang Raja Sulaiman.

2. Fasa dua : Bahagian Asia Tenggara itu telah berpecah dari Tanah Arab lalu bersambung dengan kawasan benua besar Asia yang kita kenali sebagai Indo China. Ketika ini Sumatera masih sebahagian dari Semenanjung dan ini pernah dilukiskan di dalam peta pemikir Yunani bernama Ptolemy yang dibuat sebelum atau sekitar zaman Nabi Isa AS. Keadaan ini masih berlangsung sehingga zaman para sahabat Nabi Muhammad SAW lalu jika kapal belayar dari Tanah Arab atau India untuk ke China mesti melalui pantai barat Sumatera. Maka naiklah pelabuhan-pelabuhan seperti Barus juga daerah Minangkabau sebagai persinggahan segala dagang.

3. Fasa tiga. Sumatera dan Semenanjung berpisah dari Indo China. Laluan dagang dari India ke China dan sebaliknya perlu melepasi utara Aceh yang rapat dengan Pattani dan Kelantan. Lalu kawasan-kawasan ini dan sekitarnya menjadi tempat persinggahan utama.

4. Fasa empat. Sumatera terpisah dari Semenanjung sedangkan Semenanjung bersambung kembali dengan Indo China lalu menutup laluan fasa tiga. Maka muncullah Selat Melaka sebagai laluan utama antara India dan China dan naiklah kerajaan Melaka.

5. Fasa lima? Kita sudah melihat bagaimana peristiwa Tsunami 26 Disember 2006 boleh mengalihkan seluruh Pulau Sumatera sejauh beberapa meter dan mengubah garisan pantai di beberapa tempat. Dengan segala macam gerakan seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mungkin terjadi, tidak mustahil nanti Sumatera akan bersambung kembali dengan Semenanjung dan Selat Melaka kembali menjadi sebesar sungai untuk memenuhi hadis akhir zaman tentang "negeri di belakang sungai".
 

Wednesday, March 23, 2011

Atlantis yang tenggelam berada di Nusantara

Saya sambung lagi posting terdahulu yang dibuat secara bersiri. Tujuan saya hanya satu bahawa orang Melayu tahu jatidiri serta sejarah nenek moyang mereka. Ini penting kerana pada bahu orang Melayu Islam terletaknya AMANAT penting untuk membangkitkan Islam dari Timur. Dan atas sebab itulah Nabi Muhammad S.A.W telah memerintahkan para sahabatnya mengIslamkan Raja Raja Melayu pada kurun ke 3 Hijrah iaitu sewaktu baginda maseh hidup lagi.

Kesah pengIslaman Raja Raja Melayu,   itu termaktub dalam kitab Hikayat Si Merah Silu, Kesah Raja Samudra Pasai yang bermimpi mengucapkan  2 kalimah  syahadah beberapa hari sebelum dia benar benar memeluk Islam dengan bantuan pelayar berbangsa Arab seperti yang dicatatkan oleh Tun Sri Lanang di Sejarah-Melayu

Atlantis dan Teori Out Of Nusantara (Out Of Sundaland)

Hari ini yang tinggal dari Sundaland benua ajaib yang memegang peradaban pertama dunia hanyalah kepingan plat tectonic benua yang dipanggil plat Sunda. Di atas plat Sunda ini diapungkan beberapa pulau yang dulunya puncak gegunung dan tenggelam akibat Banjir Besar di zaman Nabi Nuh. Pulau pulau yang dulunya puncak puncak gunung  itu adalah Semenanjung Tanah Melayu, Pulau Sumatera, Jawa, Singapura,Bali,Sulawesi, Maluku, Borneo, Filipina dan Papua New Guinea.

Kajian geologi, genetik, arkeologi, antropologi dan linguistik menunjukkan manusia yang beroeradaban tinggi bermigrasi keluar dari Sundaland atau Nusantara

Keberadaan Peradaban di Sundaland, dikemukakan Profesor Aryso Santos dari Brasil, melalui bukunya Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Di dalam bukunya itu, Profesor Santos menyatakan, Sundaland adalah benua Atlantis, yang disebut-sebut Plato di dalam tulisannya Timeus dan Critias.

Sebelumnya pada tahun 1998, Oppenheimer menerbitkan buku berjudul,”Eden in the East : The Drowned Continent of Southeast Asia”. Secara singkat, buku ini mengajukan thesis bahwa Sundaland pernah menjadi suatu kawasan berbudaya tinggi, tetapi kemudian tenggelam, dan para penghuninya migrasi  ke tempat lain (out of Sundaland), yang pada akhirnya menurunkan ras-ras baru di bumi.

Hipotesis ini ia bangun berdasarkan penelitian atas geologi, arkeologi, genetika, linguistk, dan folklore atau mitologi. Berdasarkan geologi, Oppenheimer mencatat bahwa telah terjadi kenaikan permukaan laut dengan menyurutnya Zaman Ais terakhir. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu dan telah menenggelamkan Sundaland. Arkeologi membuktikan bahwa Sundaland mempunyai kebudayaan yang tinggi sebelum banjir terjadi. Kenaikan permukaan laut ini telah menyebabkan manusia penghuni Sundaland menyebar ke mana-mana mencari daerah yang tinggi.


Gambaran Atlantis

Sokongan bagi hipotesis Oppenheimer (1998), datang dari sekelompok peneliti arkeogenetika yang sebahagian merupakan rakan sejawat Oppenheimer. Kelompok penyelidik dari University of Oxford dan University of Leeds ini mengumumkan hasil peneltiannya, melalui jurnal berjudul “Molecular Biology and Evolution” edisi Mac dan Mei 2008, yakni pada makalah berjudul “Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia” (Soares et al., 2008) dan “New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia” (Richards et al., 2008).

Menurut Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menentang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolithikum) tahun yang lalu. Pasukan Penyelidik  menunjukkan apa yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland, yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.

Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya permukaan laut di wilayah ini, dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur (New Guinea dan Pasifik), dan ke barat (daratan utama Asia Tenggara), terjadi dalam masa sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E, yang merupakan komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Melaka, dan sekitarnya.

Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oceania, pada sekitar 8.000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan sea-level rises pada ujung Zaman Es 14.000–7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini (Sumber : mail-archive).


Orang Melayu sudah mempunyai peradaban tinggi 9000 tahun dulu 

Kemunculan buku Eden In The East karya Prof. Dr. Stephen Oppenheimer, seorang ahli genetika & struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggeris membuktikan keistimewaan bangsa Melayu yang merangkumi semua ras ras Melayu di Nusantara ini. Oppenheimer Theory yang dengan tegas menyatakan bahwa nenek moyang dari induk peradaban manusia modern (Mesir, Mediterania dan Mesopotamia) adalah berasal dari Tanah Melayu yang sering disebut dengan Sundaland.!



Eden In The East mendasarkan kesimpulannya kepada penelitian yang dilakukan selama puluhan tahun. Dokter ahli genetik dengan struktur DNA manusia tersebut melakukan riset struktur DNA manusia sejak manusia modern ada selama ribuan tahun yang lalu hingga saat ini. Guru Besar dari Oxford University ini menguasai filosofi pendekatan dasar yang digunakan disiplin keilmuan kedoktoran, geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, linguistik, folklore.

Lebih lanjut, Prof. Dr. Stephen Oppenhenheimer yang menjadi peneliti ahli sekaligus penulis tetap Oxford Science Review tersebut dan juga telah menulis The Origin Of The British (Asal Mula Nenek Moyang Orang-Orang Inggris) menegaskan bahwa orang-orang Polinesia (penghuni Benua Amerika) bukan berasal dari Cina sebagaimana yang terpampang dalam setiap teks sejarah buku pelajaran, melainkan dari orang-orang yang datang dari dataran yang hilang dari pulau-pulau di Asia Tenggara. Penyebaran kebudayaan dan peradaban tersebut disebabkan “banjir besar” yang melanda permukaan bumi pada 30.000 tahun yang lalu. Hal tersebut diperkuat oleh catatan-catatan cerita masyarakat Asia Tenggara yang banyak sekali tersimpan di museum purbakala mengenai banjir besar di periode tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, Oppenheimer yang teori nya didukung oleh scientist dari Oxford University dan Leeds University tersebut mengatakan bahwa budi daya bercocok tanam /penanaman padi pertama kali bukan berasal dari Cina atau India melainkan penduduk di Semenanjung Tanah Malayu pada 9000 tahun yang lalu. Teori penyebaran budaya dan peradaban dunia yang berasal dari Tanah Melayu tersebut bahkan dikuatkan oleh research tahunan yang dilakukan Dr. Joanna Nichols yang berakhir pada kesimpulan besar, bahwa arus migrasi besar-besaran dunia berasal dari masyarakat Semenanjung Melayu menuju Cina selanjutnya menyebar ke tempat lain bukan sebaliknya sebagaimana teori yang menyebutkan bahwa nenek moyang Asia Tenggara berasal dari Cina.

Temuan tersebut memperkuat buku lain yang telah muncul sebelumnya Atlantis, The Lost Contiennt Finally Found karya Prof. Arysio Santos dengan sejumlah argumentasi ilmiah yang juga melakukan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu. Baik Prof. Arysio Santos dan Prof. Dr.Stephen Oppenheimer memperlihatkan dengan jelas bagaimana sebuah pendekatan multi disiplin sangat penting digunakan untuk merekontruksi sebuah missing link yang hilang dalam sejarah peradaban manusia modern.

Team ekspedisi Berekofen dan Hans Berekofen, selama lebih dari 15 tahun terakhir telah menyusuri Semenanjung Melayu (Indonesia, Malaysia dan Singapura) untuk mengumpulkan bukti-bukti lapangan yang menunjukkan bahwa pusat peradaban dunia terkubur di bawah puluhan meter permukaan tanah Semenanjung Melayu sundaland.


Sebagai satu bangsa besar satu masa dulu, orang Melayu/Bani Jawi perlu berjiwa besar  dan memberi respons positif  dan proaktif  yang akan berpengaruhi sebahagian besar kehidupan di dunia ini.