Rusuhan oleh mahasiswa yang merebak di merata tempat di Indonesia kerana pemerintah di bawah Presiden SBY telah merancang untuk menaikkan harga petrol sebanyak 33 peratus kerana kenaikan BBM di Indonesia
Pemerhati ekonomi di Indonesia menunding jari ke atas IMF yang memaksa Indonesia menaikkan kadar BBM dan seterusnya menyebabkan Pemerintah tidak lagi mampu memberi subsidi pada bahan bakar itu seterusnya terpaksa merancang untuk melonjak harga bahan bakar tersebut sebanyak 33 peratus .
Semasa Anwar jadi TPM beliau meningkatkan BBM dan menyusahkan penduduk Malaysia yang terpaksa membayar kadar faedah yang tinggi kepada bank. Tun Dr. Mahathir terpaksa memecat beliau dan menetapkan kadar tukaran matawang Malayasia RM 3.80 kepada USD 1. Ini telah menstabilkan ekonomi Malaysia dan menyelamatkan Malaysia dari mengambil pinjaman IMF. |
Sesunggguhnya Malaysia bertuah kerana dengan semangat patriotisme dan kebijaksanaan Tun Dr. Mahathir dengan izin Allah semasa beliau menjadi Perdana Menteri Ke 4, beliau telah merancang Dasar Ekonomi Tertutup (iaitu menetapkan kadar tukaran matawang Malaysia pada RM 3.80 -USD 1) bagi menghalang penyangak matawang antarabangsa George Soros dari menjadikan Malaysia jajahan IMF di bawah Order Dunia Baru.
Ikuti penjelasan pemerhati di bawah:
JAKARTA—Pengamat Kebijakan Publik dan Ketua Koalisi Anti Utang, Dani Setiawan ada skenenario yang dijalankan oleh IMF & Bank Dunia (World Bank) beserta lembaga keuangan dunia lainnya dalam rencana kenaikan BBM.
Dani mengatakan, kenaikan harga BBM merupakan kebijakan yang dibuat untuk mengurangi subsidi BBM dan menyerahkan harga BBM sesuai harga pasar (dunia).
Hal tersebut sejalan dengan kepentingan pemodal (peminjam aseng) internasional dalam mendorong agenda "liberalisasi sektor energy " (Migas dan Listrik) di Indonesia.
Kebijakan (pemodal/peminjam Internasional IMF, Bank Dunia, Asian Development Bank dan USAID ) ini ditujukan untuk mendominasi sektor energi nasional dari hulu ke hilir.
“ Aktor internasional yang terlibat dalam kebijakan ini adalah IMF, Bank Dunia, Asian Development Bank, dan USAID melalui pemberian skema hibah dan utang.
Liberalisasi sektor energi salah satunya menghasilkan regulasi baru di sektor Migas yaitu UU No 22/2001 tentang Minyak dan Gas,” papar Dani, saat ditemui PME, Jakarta, Senin (19/03).
Dani menjelaskan, liberalisasi sektor energi melalui pembuatan UU Migas baru merupakan satu aturan yang tertuang dalam Letter of Intent (LoI) antara Indonesia dengan IMF untuk mengganti UU Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi dengan UU baru yang lebih berpihak pada investor.
Pada 1999, RUU Migas disodorkan oleh pemerintahan Habibie kepada DPR, melalui Menteri Pertambangannya, (1) Kuntoro Mangkusubroto. Namun keberadaan RUU tersebut ditolak oleh DPR. Draft RUU Migas itu disebut sebagai “RUU Migas Jilid I”
Di masa Presiden Abdurahman Wahid, RUU Migas ini kembali ditawarkan kepada DPR, melalui Menteri ESDM, (2) Susilo Bambang Yudhoyono. Dan diteruskan oleh (3) Purnomo Yusgiantoro untuk menyakinkan DPR untuk mengesahkan “RUU Migas Jilid II”, hingga akhirnya resmi menjadi UU pada 2001, di masa kepemimpin Megawati Soekarno Putri.
“ Dari sini jelas sekali ada kepentingan keempat lembaga keungan tersebut dalam rencana kenaikan BBM,” katanya.
Selain itu menurutnya dengan menaikan harga BBM pemerintah secara perlahan seperti ingein menghapuskan peredaran premium dan mengganti dengan BBM jenis pertmax yang notabene komposisi bahan yang ada dalam Pertamak masih impor.
“ Kita tentu ingat kejadian pemerintah menaikan minyak tanah, secara perlahan hilang dipasaran karena mahal harganya dan masyarakat akhirnya memilih gas. Hal ini juga akan terjadi dengan Premium nanti secara perlahan akan hilang dipasaran karena mahal harganya, dengan perbedaan harga yang sedikit otang akan beralih ke Pertamak, padahal komposisi bahan yang ada di Pertmax masih import sealin itu juga masih banyak SPBU yang belum mempunyai alat ukur untuk pertamax terutama di daerah,” pungkas Dani.
sumber : http://pmeindonesia.com/berita-migas/450-pengamat-tuding-imf-a-world-bank-dibalik-kenaikan-bbm
Posted by Ari Harmedi at 01:43